Spanduk ucapan selamat datang untuk 3 tamu dari Universitas Toyama (2/8) (dok. pribadi)
Spanduk ucapan selamat datang untuk 3 tamu dari Universitas Toyama (2/8) (dok. pribadi)

Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kuliah tamu yang menampilkan 3 pembicara dari Toyama University, Jepang. Kegiatan dilakukan pada hari Selasa (2/8) dan dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa Fakultas Farmasi Unhas. Kegiatan ini bertempat di Ruang Senat Universitas Hasanuddin.

Ke-3 pembicara tersebut adalah para profesor dari Universitas Toyama yang menggeluti bidang yang berbeda. Pada kesempatan pertama, Prof. Ken-ichi Hosoya, Ph.D membawakan materi dengan judul Microdialysis for Evaluating the Efflux Transport of Drugs Across the Blood-Retinal Barrier.

Dalam paparannya, Prof. Hosoya menjelaskan tentang mekanisme influks (masuknya) dan efluks (keluarnya) senyawa di mata. Penjelasannya mengarah kepada kesimpulan bahwa blood-retinal barrier (BRB) memainkan peran penting dalam menentukan transpor obat ke dalam mata, sehingga perlu formulasi tertentu agar pergerakan obat ke dalam mata dapat optimal. Untuk memonitor lalu-lintas influks dan efluks obat, maka Hosoya Sensei melakukan metode microdialisis.

Prof. Hosoya adalah Dekan pada Graduate School of Medicine and Pharmaceutical Sciences, University of Toyama. Beliau merupakan salah satu pengajar di Departemen Farmasetika.

Prof. Makoto Kadowaki, Ph.D. mendapatkan kesempatan selanjutnya untuk memaparkan materinya. Kadowaki Sensei adalah pengajar di Division of Gastrointestinal Pathophysiology, Institute of Natural Medicine, University of Toyama.

Adapun titel presentasi yang disampaikan saat presentasinya adalah  Search for Therapeutic Agents Against Foof Allergy from Traditional Medicines and Elucidation of Their Underlying Mechanisms in Mast Cells. Beliau mengawali presentasinya dengan memperkenalkan Kampo yang merupakan terapi dengan menggunakan bahan tradisional.

Prof. Kadowaki kemudian menjelaskan tentang bahaya dari alergi makanan yang sering terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Jika kejadian alergi ini mengarah kepada syok anafilaksis, maka potensi kematian dapat terjadi. Oleh karena itu, penelitian untuk menemukan senyawa penekan kejadian alergi terus berlangsung.

Menurut penelitiannya, Kadowaki Sensei memaparkan salah satu senyawa yang disebut shikonin. Senyawa ini, paparnya, adalah salah satu inhibitor kalsineurin. Jika terjadi penghambatan pada kalsineurin, maka tidak akan terjadi pemecahan sel mast yang merupakan tempat penyimpanan utama histamin. Sebagaimana diketahui, histamin berperan penting dalam kejadian alergi, termasuk alergi makanan.

Di kesempatan terakhir, Prof. Tsuneo Imanaka, Ph.D. dipersilakan untuk menyampaikan presentasinya. Beliau adalah profesor di Laboratory of Molecular Cell Biology, Graduate School of Medicine and Pharmaceutical Sciences.

Judul yang dibawakan dalam presentasinya adalah Development of Anti-Trypanosomal Drugs that Target Glycosome Biogenesis Factors: Interaction of TbPex5p and TbPex14p and HTRF Based Screening of Chemical Compounds that Inhibit the Interaction. Pada awal paparannya, Imanaka Sensei memberikan gambaran tentang penyakit yang disebabkan oleh genus parasit Tripanosoma. Penyakit yang terjadi karena infeksi tripanosomal adalah sleeping sickness (penyakit tidur). Vektor parasit ini adalah lalat Tse-Tse.

Prof. Imanaka menjelaskan bahwa salah satu mekanisme kerja senyawa anti-tripanosoma adalah mengganggu glikosom yang merupakan salah satu bagian penting dalam parasit tripanosoma. Adanya gangguan pada glikosom pada akhirnya akan membunuh parasit ini.

Sebagai moderator dalam kegiatan ini adalah Firzan Nainu, Ph.D., Apt., yang merupakan alumni Kanazawa University. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor IV Unhas, Prof. Dr. Budu, Sp.M., mewakili Rektor Unhas yang sedang berhalangan untuk hadir. Dalam sambutan pembukaannya, Prof. Budu menyatakan bahwa Universitas Toyama adalah satu universitas di Jepang yang memiliki publikasi terbanyak. Mengingat prestasi ini, maka sekarang sedang diupayakan agar universitas ini dapat dimasukkan dalam list penerima beasiswa LPDP maupun Dikti.

Kuliah umum ini ditutup dengan sesi diskusi yang dibuka selama 30 menit. Beberapa audiens, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa, mengajukan pertanyaan untuk ke-3 pembicara (chm).